Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Bahkan bukan “hanya” antar pelajar SMU, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus.
DAMPAK PERKELAHIAN PELAJAR
Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.
PANDANGAN UMUM TERHADAP PENYEBAB PERKELAHIAN PELAJAR
Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di antaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah.
Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.
Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.
TINJAUAN PSIKOLOGI PENYEBAB REMAJA TERLIBAT PERKELAHIAN PELAJAR
Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar.
1. Faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.
2. Faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.
3. Faktor sekolah. Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya.
4. Faktor lingkungan. Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.
salah satu berita yang belum lama menggemparkan kita yatu "MENINGGALNYA ALLAWY KARENA MENJADI KORBAN TAWURAN ANTARA SMAN 6 DENGAN SMA 70 "
Pembacok Alawy, FR Bisa Diadili di Pengadilan Biasa
Alawy Yusianto Putra (tengah), pelajar SMA Negeri 6 yang tewas dalam aksi tawuran pelajar di Bulungan, Jakarta Selatan.
- FR, siswa kelas XII SMAN 70 yang telah menjadi tersangka utama
pembacokan siswa SMAN 6 Alawy Yusianto Putra (15) hingga kini masih
buron.
Meski statusnya masih duduk di bangku sekolah, namun FR akan tetap
diproses secara hukum. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa FR pernah
dua kali tinggal kelas, yang berarti ada kemungkinan usianya sudah
melebihi 17 tahun.
"Kalau memang secara umur FR sudah bukan masuk kategori anak-anak atau
sudah melebihi usia 17, maka UU Perlindungan Anak sudah tidak berlaku
lagi bagi dia. Begitupun proses pidana yang dikenakan padanya, prosesnya
adalah pengadilan biasa dan bukan pengadilan anak-anak," jelas Kabid
Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto di Mapolda Metro Jaya,
Rabu (26/9/12).
Rikwanto menjelaskan, hingga kini kepolisian masih mengumpulkan
bukti-bukti terkait dengan perkelahian yang pecah di daerah Bulungan,
Senin (24/9/12) lalu.
"Saat ini FR masih dalam pengejaran, dan tengah diadakan identifikasi untuk memastikan keterlibatan pihak lain," ujar Rikwanto.
FR merupakan tersangka yang diduga mencelurit Alawy sehingga melukai
dada dan menewaskan siswa kelas X SMAN 6 itu. Saat kejadian tawuran, dia
sempat ditangkap oleh seorang guru, namun berhasil meloloskan diri.
Hingga kini, FR masih terus dicari pihak kepolisian.
Ayah dari Almarhum Alawy Y Putra, Tauri
Yusianto (kanan) menangis saat mengikuti upacara pemakaman di TPU Poncol
Pedurenan, Tangerang, Selasa (25/9/2012). Alawy adalah siswa SMAN 6,
Bulungan, Jakarta Selatan, yang menjadi korban tewas dalam tawuran
sehari sebelumnya.
Aparat kepolisian telah menetapkan FR, siswa kelas XII SMA Negeri 70 Jakarta, sebagai tersangka utama dalam kasus pembacokan terhadap Alawy Yusianto Putra (15), siswa kelas X SMA Negeri 6 Jakarta. Hingga kini, polisi masih memburu FR.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto meminta tersangka segera menyerahkan diri. "Kami imbau kepada tersangka sebaiknya menyerahkan diri jangan dikejar-kejar petugas dan seperti penjahat besar yang sudah mengakibatkan orang meninggal," ujar Rikwanto, Rabu (26/9/2012), di Mapolda Metro Jaya.
Dia menjelaskan, nantinya pelaku akan dijerat dengan pasal berlapis seperti Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, Pasal 351 Ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan orang meninggal, dan Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan. Bahkan, bisa jadi, FR dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana yang ancaman hukumannya seumur hidup. Rikwanto mengatakan, pihaknya tetap tidak menoleransi pelajar yang melakukan tindak pidana.
"Hukum tetap ditegakkan walaupun pelajar. Tetap dikenakan pasal pidana. Hanya saja, perlakuan dan hak-haknya berbeda dan tetap dipenuhi seperti untuk belajar," ujar Rikwanto.
Diberitakan sebelumnya, sekelompok pemuda yang merupakan siswa SMA Negeri 70 Jakarta tiba-tiba saja menyerang sekelompok pemuda siswa SMA Negeri 6 Jakarta pada Senin (24/9/2012) siang. Di dalam peristiwa itu, siswa SMA Negeri 6 Jakarta, yakni Alawy Yusianto Putra, tewas dibacok.
Sementara satu orang teman, Alawy, yakni Ramdan Dinis, berhasil selamat meski mengalami luka sobek di bagian pelipis. Saat kejadian, Alawy bersama beberapa rekannya, termasuk Zurah (15), sedang menikmati makanan di Gultik Bulungan. Lokasi tersebut hanya berjarak seratusan meter dari Kompleks SMA Negeri 70 Jakarta.
Ketika itulah tiba-tiba muncul puluhan pelajar berseragam dan atribut SMA Negeri 70 Jakarta yang membawa senjata tajam menyerang ke arah kelompok kecil siswa SMA Negeri 6 Jakarta. Serangan tiba-tiba itu membuat Alawy dan teman-temannya tidak bisa membela diri kecuali dengan cara berlari menyelamatkan diri. Sayang, Alawy tak bisa meloloskan diri. Dia dibacok dari arah belakang dengan senjata tajam yang diduga jenis celurit/arit hingga menyebabkan dadanya sobek.
Mimpi Alawy Kandas di Bulungan
Foto Alawy Yusianto Putra (15) bersama Keluarga korban penyerangan pelajar SMAN 6 oleh siswa SMUN 70 di rumah kediamannya di Ciledug Indah II, Tangerang,
Alawy Yusianto Putra menyimpan segudang cita-cita saat masuk ke SMA Negeri 6 Jakarta. Namun, kini mimpinya kandas begitu saja di jalanan di Bulungan.
Pelajar kelas X SMAN 6 Jakarta ini tewas dalam serangan segerombol pelajar SMAN 70 di dekat tugu Bulungan, Jakarta Selatan, Senin (24/9/2012). Sabetan celurit di dadanya menghentikan langkahnya untuk menggapai mimpi menjadi drumer andal.
Alawy merintis bakatnya menabuh drum sejak SMP bersama grup musiknya, Autorion Band. Dari panggung ke panggung, remaja berusia 15 tahun itu membangun mimpinya.
Kakak Alawy, Yunita Endah Lestari (19), mengaku, langkah Alawy memang kerap dilarang oleh orangtuanya karena hobinya itu sering dilakukan sampai malam hari. Namun, Alawy tetap bersikukuh menunjukkan bakatnya dalam berbagai kesempatan sambil terus menunjukkan tanggung jawabnya sebagai seorang pelajar.
Yunita tahu, adiknya adalah anak yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, dia kerap membantu memberi pengertian kepada ayah dan ibunya agar tidak terus-terusan melarang Alawy bermain musik.
"Adik saya itu dekat sama saya. Dia sering ngobrol dan curhat bareng. Komunikasi sama dia itu seru, meski kadang papa mama suka ngelarang dia pulang malam, tetapi saya sering membelanya, yang penting bukan di hari sekolah," kata mahasiswi semester III Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu seusai pemakaman adiknya, Selasa (25/9/2012).
Alawy, lanjutnya, bahkan sempat menorehkan prestasi bermusiknya di beberapa festival musik di Jakarta baru-baru ini. Yunita pun mengatakan bahwa adiknya itu sebenarnya tengah dalam suasana hati yang bergairah karena dalam waktu dekat, salah satu label musik rencananya akan mendengarkan demo musik bandnya. Oleh karena itu, dia tengah semangat mempersiapkannya bersama teman-temannya.
Namun, kakak sulung Alawy itu mengakui bahwa adiknya tak pernah melupakan tugas-tugas sekolahnya. Memang kerap terlihat santai, tetapi Alawy adalah anak yang cerdas. Bahkan, lanjut Yunita, Alawy yang juga alumnus SMPN 88 Jakarta Barat ini boleh dibilang sebagai siswa yang berprestasi. Meski tidak selalu menjadi juara 1 saat SMP, dia sempat beberapa kali berada di urutan 3 dan 10 besar di kelasnya.
"Dia itu berbakat, senang olahraga dan semangat banget kalau sekolah. Dia itu anaknya santai, tapi pas belajar cepet masuk ke otaknya. Walau enggak ikut bimbel, tapi dia seneng Matematika sama Kimia," tutur Yunita di rumah kediaman keluarganya di Ciledug Indah II, Tangerang.
Kandas di jalanan
Namun sayang, mimpi dan langkah Alawy harus kandas begitu saja di jalanan di Bulungan yang dalam 10 tahun terakhir kerap diwarnai kekerasan antarpelajar. Yunita mengaku tak kuasa menahan kesedihan saat menerima kabar bahwa adiknya menjadi korban tawuran.
"Saya lagi ada kelas pas dikasih tahu sama teman melalui ponsel. Saya panik, tetapi enggak percaya, saya search Twitter-nya, teman-temannya sudah mengatakan 'Innalillahi wa inna ilaihi rajiun'. Saya enggak kuat waktu itu," kenangnya sambil terisak.
Yunita mengaku tak suka mendengar kata tawuran. Ingatannya melayang ke masa SMA-nya. Saat itu, teman-teman sekolahnya juga sering terlibat tawuran. Yunita sangat kesal karena ada temannya yang merasa bangga dan bahagia karena terlibat tawuran.
"Jangan pernah anggap tawuran itu seru, jangan pernah! Karena orangtua lo itu nunggu lo di rumah. Jangan macem-macem, jangan buat susah mereka, buat bahagia aja lo belom bisa! Dulu di SMA aku juga ada tawuran, ada yang bilang seru, padahal itu enggak bener, enggak ada manfaatnya," serunya.
Yunita menyesali peristiwa tawuran kembali terjadi hingga memakan korban jiwa. Kali ini adiknya sendiri. Dia pun meminta agar pelajar sekolah di mana pun untuk tidak menganggap tawuran sebagai gengsi yang harus diperjuangkan, terutama di sekolah-sekolah yang katanya unggulan. Yunita tahu benar, banyak siswa termasuk adiknya yang tak suka tawuran. Namun, jika tradisi tawuran masih berlangsung, banyak siswa yang tak suka tawuran pun bisa menjadi korban.
"Adik saya enggak pernah ikut tawuran. Dia pun tahu waktu memilih SMAN 6 dia berjanji tidak akan ikut tawuran. Tetapi akhirnya dia kena, dia jadi korban," ungkapnya sedih.
FR Ditangkap di Yogyakarta, Akan Segera Dibawa ke Jakarta
FR alias Doyok (21) telah ditangkap di Yogyakarta, Kamis (27/9/2012)
pagi tadi. Buronan siswa SMAN 70 Bulungan Jaksel itu adalah tersangka
pembacok Alawy Yusianto Putra (15), siswa SMAN 6 di lokasi yang sama.
| Ayah almarhum Alawy Y Putra, Tauri Yusianto menangis dan mencium foto anaknya saat pemakaman di TPU Poncol Pedurenan, Tangerang, Selasa (25/9/2012). Alawy adalah siswa SMAN 6, Bulungan, Jakarta Selatan, yang menjadi korban tewas dalam tawuran. |
"Ya benar. F telah ditangkap pagi tadi. Sesegera mungkin dibawa ke
Jakarta. Kemungkinan pakai pesawat," kata Kepala Kepolisian Resor Metro
Jakarta Selatan Komisaris Besar Wahyu Hadiningrat.
Alawy tewas dicelurit Fitra saat perkelahian Senin (24/9) lalu sekitar pukul 12.00.
Senior Penghasut Tawuran Bisa Dipidana
Hanya selang tiga
hari, dua pelajar di Jakarta, Alawy Yusianto Putra dan Deny Yanuar,
tewas. Penyebabnya tak lain adalah kedua sekolah tempat keduanya
mengenyam pendidikan tak lepas dari tradisi tawuran dengan kelompok
pelajar lain.
Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, mengungkapkan, adu
jotos yang kerap terjadi antara sekolah tertentu disebabkan oleh doktrin
yang diberikan kakak kelas kepada adik kelasnya. Hal itu terjadi secara
turun-temurun dan akhirnya mengakar kuat pada siswa di sekolah
tersebut.
"Oleh sebab itu, senior yang memprovokasi yuniornya untuk menyerang
siswa sekolah lain bisa dipidana," kata Reza kepada Kompas.com, Rabu
(26/9/2012) malam.
Menurut Reza, senior yang melakukan hasutan kepada yuniornya untuk turut
serta dalam aksi tawuran merupakan penyebab paling nyata dua pelajar di
Jakarta tewas. Oleh sebab itu, sang senior dapat dikenakan dua pasal
sekaligus, yaitu tindak pidana penghasutan KUHP dan Undang-Undang
Perlindungan Anak.
"Mereka bisa dijerat dengan Pasal 160 KUHP dan pasal Undang-Undang
Perlindungan Anak (UUPA) Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 87," ujarnya.
Bunyi Pasal 160 KUHP: Barang siapa di muka umum lisan atau tulisan
menghasut supaya melakukan perbuatan pidana, melakukan kekerasan
terhadap penguasa umum atau tidak menuruti baik ketentuan undang-undang
maupun perintah jabatan yang diberikan berdasarkan ketentuan
undang-undang, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Sementara ketentuan pidana UUPA No 23 Tahun 2002, Pasal 87 yang
berbunyi: Setiap orang yang secara melawan hukum merekrut atau
memperalat anak untuk kepentingan militer sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 63 atau penyalahgunaan dalam kegiatan politik atau pelibatan dalam
sengketa bersenjata atau pelibatan dalam kerusuhan sosial atau
pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan atau pelibatan
dalam peperangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Seperti diberitakan sebelumnya, tawuran di Jakarta seakan menemui
puncaknya pada akhir September 2012. Senin (24/9/2012), bentrokan pecah
antara musuh bebuyutan, SMA Negeri 6 dan SMA Negeri 70, Kebayoran Baru,
Jakarta Selatan. Alawy Yusianto, siswa SMA Negeri 6, tewas akibat luka
bacok di tubuhnya. Peristiwa itu seakan menambah panjang sejarah
perseteruan yang telah terjadi selama belasan generasi itu.
Dua hari berselang, Rabu (26/9/2012), adu jotos kembali terjadi di Jalan
Minangkabau, Jakarta Selatan. Kali ini pertikaian terjadi antara
sekolah Yayasan Karya 66 (Yake) dan SMA Kartika Zenni, yang juga
terkenal di dunia tawuran pelajar. Deny Yanuar, siswa kelas XII SMA
Yake, tewas karena tusukan senjata tajam di tubuhnya.
Kerabat berusaha menghibur Suyanti (kanan) saat menunggu jenazah anaknya, Deni Januar, di Rumah Duka RSCM, Jakarta Pusat, Rabu (26/9). Deni adalah siswa SMA Yayasan Karya 66 yang tewas saat terlibat tawuran dengan siswa SMK Kartika Zeni. Tawuran tersebut terjadi di Jalan Minangkabau, Manggarai, Jakarta Selatan.
JAKARTA, KOMPAS.com - Belum kering tanah kubur Alawy Yusianto Putra yang meninggal akibat keberingasan pelajar pada Senin lalu, Rabu (26/9) siang, kembali terjadi tawuran yang menewaskan Deni Januar. Ironinya, kasus ini terjadi saat semua pihak berkomitmen mengakhiri tawuran.
Deni Januar (17), siswa kelas XII SMA Yayasan Karya 66 (YK), Kampung Melayu, Jakarta Timur, tewas terkena sabetan senjata tajam pelajar SMK Kartika Zeni (KZ). Deni meninggal saat terjadi tawuran di Manggarai, Jakarta Selatan. Kejadian ini mementahkan tekad Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh serta Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo untuk mengakhiri tawuran pelajar di ibu kota negara ini.
”Ini adalah kasus terakhir. Mulai hari ini akan kami dukung penuh agar tawuran tak terjadi lagi,” kata Nuh saat jumpa pers di SMAN 6, Bulungan, Jakarta Selatan, Selasa lalu.
Pernyataan sikap itu dideklarasikan pasca-tewasnya Alawy dalam perkelahian antara siswa SMAN 70 dan SMAN 6. Alawy adalah siswa kelas X di SMAN 6.
Tegakkan hukum
Meski demikian, Nuh di Markas Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan, kemarin malam, seusai menemui AU (17), pelajar tersangka kasus penusukan Deni, kembali menegaskan, sanksi hukum bagi anak-anak yang terlibat dalam kriminalitas, termasuk tawuran, harus ditegakkan.
Apabila hal ini tidak dilakukan, Nuh khawatir kejadian semacam ini akan terus menyebar karena muncul asumsi bahwa hukuman yang diberikan ringan.
”Semua opsi untuk menyelesaikan harus dibuka, termasuk sanksi hukum yang harus ditegakkan betul. Kalau sudah begini, harus diberikan hukuman yang setimpal, tetapi hak sebagai anak dilindungi,” tuturnya.
Nuh bertemu dan berbincang dengan AU secara tertutup di Markas Polres Jakarta Selatan. Ia mengajukan beberapa pertanyaan. Namun, Nuh mengaku sangat terkejut mendengar jawaban spontan AU yang mengatakan puas sudah membunuh korban.
”Siapa tidak terkejut. Membunuh orang puas. Saya tanya lagi, ’Apa benar puas setelah membunuh’? Dia jawab, ’Puas, Pak, tetapi saya agak menyesal’. Baru kata penyesalan itu keluar,” ungkap Nuh.
Berkaca dari jawaban itu, Nuh mengaku bahwa sekolah perlu dibantu karena menerima beban luar biasa tidak hanya mendidik, tetapi juga mengubah perilaku sosial siswa yang berat.
Sekolah tidak bisa langsung dipersalahkan karena terkadang, saat masuk sekolah, anak sudah membawa beban sosial yang luar biasa berat. Dia mengaku sedang berupaya memikirkan solusi untuk mengatasinya.
Sementara itu, dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi X DPR dan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto, ia dicecar berbagai pertanyaan. Intinya, tiga anggota Komisi X DPR, Dedi Gumilar, Zulfadli, dan Reni Marlinawati, mendesak Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta mencopot para kepala sekolah yang siswanya terlibat dalam perkelahian sehingga menyebabkan siswa lain tewas. Tindakan pencopotan para kepala sekolah sudah pantas dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik.
”Tindakan kriminal yang dilakukan para siswa itu bukan tindakan mendadak, tetapi sudah terakumulasi bertahun-tahun dan sudah menjadi tradisi pewarisan tindak kekerasan dari senior kepada yuniornya. Terus, ke mana saja para kepala sekolah itu?” kata Dedi.
Zulfadli menyampaikan hal senada. ”Kasus tawuran pelajar yang menewaskan siswa lain ini cermin kegagalan besar kepala sekolah. Dia gagal sebagai pendidik. Dia juga gagal sebagai manajer,” katanya.
Zulfadli dan Dedi juga mengkritik polisi yang dinilai melakukan tindakan pembiaran. ”Lalu, ke mana intelijen polisi? Ke mana fungsi kepolmasan polisi?” ucap Zulfadli.
Taufik Yudi Mulyanto, yang dihubungi secara terpisah menanggapi kritik dan kecaman para wakil rakyat itu, mengucapkan terima kasih. Dalam waktu dekat, lanjutnya, OSIS di kedua sekolah itu akan mengadakan sejumlah kegiatan sosial dan kesenian.
Negara absen
Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Dwi Rio Sambodo, mengatakan, terus berulangnya tawuran pelajar yang memakan korban karena pihak-pihak terkait tidak optimal melakukan pencegahan.
”Dalam hal ini, negara terkesan absen dalam problematika tawuran pelajar. Selama bertahun-tahun, instansi-instansi terkait tidak melakukan pencegahan secara terintegrasi dan optimal,” katanya.
Penyelenggara pendidikan, yaitu sekolah di garda depan, suku dinas pendidikan, ataupun dinas pendidikan sebagai pemegang otoritas, juga gagal mentransformasikan substansi pendidikan. ”Isi kurikulum ataupun operasional pelaksanaannya sering kali terlihat sekadar formalitas di sekolah,” ujar Rio.
Koordinator Koalisi Pendidikan Lody Paat menambahkan, agar pendidik kembali berwibawa dan didengar serta bisa menjadi contoh baik bagi para siswa, seharusnya diterapkan aturan tegas disertai sanksi atas setiap pelanggaran.
Dua tawuran
Rabu kemarin, sedikitnya pecah dua perkelahian antarsiswa di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, dan di Jalan Komodor, Halim Perdanakusuma, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.
Data dari Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya, pada pukul 12.30 terjadi perkelahian antara siswa SMA YK dan SMK KZ yang keduanya berada di Jakarta Timur. Terjadi saling melempar batu di antara dua kelompok siswa dari dua sekolah itu di perbatasan antara Jalan Minangkabau dan Jalan Saharjo. Saksi mata yang juga siswa SMA YK, Reza Nuryaman (18), mengatakan, ia dan tujuh temannya dikeroyok oleh dua kelompok siswa SMK KZ.
Hasil penyelidikan polisi, Deni Januar ditemukan tewas di Jalan Payahkumbuh yang berbatasan dengan Jalan Minangkabau. Menurut para saksi, Deni disabet dengan senjata tajam oleh salah satu siswa SMK KZ ketika menolong temannya yang terjatuh.
”Sudah ditangkap satu pelaku, AD, siswa SMK KZ, yang diduga membacok Deni. Alat bukti berupa celurit juga sudah diamankan,” kata Kepala Polres Jakarta Selatan Komisaris Besar Wahyu Hadiningrat didampingi Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Hermawan.
Polisi juga menahan dua siswa dari SMA YK, yaitu FD dan TT. Polisi kini masih mengejar EK dan GL, siswa SMK KZ yang juga terlibat perkelahian.
Sementara itu, di Halim Perdanakusuma, satu orang siswa, Susilo (15), mengalami cedera berat di bagian punggung akibat terkena sabetan benda tajam. Susilo yang merupakan siswa kelas I Jurusan Administrasi Perkantoran SMK Mardhika, Jalan Raya Condet, Kramat Jati, langsung dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia, Cawang, oleh dua kawannya.
Menurut beberapa teman satu kelasnya, sebelum jam istirahat pertama, Susilo izin ke guru piket untuk menyusul temannya, Rahmat dan Faturohim, yang izin pulang ke rumah untuk mengambil surat keterangan tidak mampu. Surat itu akan digunakan untuk memperoleh keringanan biaya sekolah.
Salah seorang teman sekelasnya, AR (15), mengungkapkan, tiga sekawan itu kemudian berangkat dengan menumpangi satu sepeda motor yang dikendarai Rahmat. Namun, di tengah jalan mereka berhenti untuk buang air kecil di pinggir Jalan Komodor.
Ketika ketiga siswa itu buang air kecil, tiba-tiba datang sejumlah siswa berseragam warna biru sambil mengacungkan senjata tajam mendekati mereka. Ketiganya kemudian dianiaya.

0 komentar:
Posting Komentar