PERKELAHIAN atau biasa
dikenal dengan tawuran kini kembali marak terjadi dikalangan pelajar.
Tidak saja di Jakarta, dibeberapa kota besar seperti Surabaya, Medan dan
Makasar dalam sebulan terakhir sering ditemukan tawuran pelajar.
Beruntung kita di Bangka Belitung ini, hingga kini tidak terjadi tawuran pelajar.Semoga saja kualitas inetelektual dan emosional pelajar kita sudah diatas rata-rata para pelajar di Jakarta dan di kota-kota besar tersebut. Sehingga tawuran tidak menjadi alternatif para pelajar di Bangka dan Belitung untuk beraktualisasi dan berekspresi.
Karena masih banyak aktivitas kreatif lainnya yang positif dan mampu mendukung masa depan belajar yang lebih baik.Diantaranya olahraga, berkesenian, dan yang sekarang lagi populer adalah menjadi jurnalis sekolah, dalam wadah Student News Paper Bangka Pos Group.
Untuk itu, perlu kita tanamkan bersama kepada seluruh pelajar dan elemen masyarakat di Babel ini, bahwa perkelahian pelajar jelas merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas.
Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah.
Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain.
Menjadi tanggungjawab kita semua untuk memberikan pemahaman kepada para pelajar bahwa kekerasan bukanlah cara efektif untuk memecahkan masalah mereka.
Penyebab perkelahian pelajar ini memang tidaklah sederhana. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.
Disadari atau tidak, tawuran di kalangan pelajar dan mahasiswa merupakan bukti gagalnya kebijakan pendidikan selama ini. Kebijakan pendidikan yang selama ini dibangun pemerintah terlalu berorientasi pada nilai atau akademik semata. Semua potensi pendidikan diarahkan untuk mengejar nilai ujian.Anak didik yang lemah secara akademik akan termarjinalkan oleh sistem. Anak yang gagal ujian nasional dicap sebagai siswa yang bodoh.
Seharusnya pendidikan tidak memberikan stempel pintar atau bodoh. Kesuksesan pendidikan tidak sebatas nilai akademik. Karena itu, pemerintah pusat hingga pemerintah daerah harus berani mengoreksi kebijakan yang selama ini mereka buat. Anak-anak yang terlibat tawuran adalah korban kebijakan pendidikan yang keliru. Tawuran pelajar yang kerap terjadi akhir-akhir ini bukan kesalahan satu pihak saja, namun semua pihak juga punya andil dalam pecahnya tawuran pelajar.Masyarakat diminta untuk tidak saling tunjuk dan saling menyalahkan, seperti menyalahkan sekolah, guru, dan orang tua. Karena masyarakat juga ikut membentuk seorang anak.
Baik buruknya perilaku anak juga tidak terlepas dari bagaimana masyarakat membentuk lingkungan. Ditambah lagi, banyak dari sekolah yang tidak menyediakan wadah bagi anak untuk mengekspresikan minat dan emosi anak didiknya.
Pendidikan yang kokoh haruslah disokong kuat oleh semua ‘pilar pendidikan, antara lain masyarakat, orang tua, sekolah, media sosial dan pemerintah. Seperti rumah, semua pilarnya harus kuat. Jika ada yang tidak kokoh akan berpengaruh kepada bangunannya.Disisi lain, pemerintah harus berperan sebagai penyeimbang semua pilar karena pemerintah memiliki kekuasaan untuk membuat sebuah sistem pendidikan.
Caranya berupa penyeimbangan semua pilar dengan memberi siswa wadah dalam mengekspresikan minat dan potensinya, dan wadah ini harus menjadi tren dan diperhatikan positif. Pemerintah harus menciptakan ‘suasana’ pembelajaran yang tidak hanya fokus pada nilai akhir atau kognisi, namun juga ilmu. (*)
Beruntung kita di Bangka Belitung ini, hingga kini tidak terjadi tawuran pelajar.Semoga saja kualitas inetelektual dan emosional pelajar kita sudah diatas rata-rata para pelajar di Jakarta dan di kota-kota besar tersebut. Sehingga tawuran tidak menjadi alternatif para pelajar di Bangka dan Belitung untuk beraktualisasi dan berekspresi.
Karena masih banyak aktivitas kreatif lainnya yang positif dan mampu mendukung masa depan belajar yang lebih baik.Diantaranya olahraga, berkesenian, dan yang sekarang lagi populer adalah menjadi jurnalis sekolah, dalam wadah Student News Paper Bangka Pos Group.
Untuk itu, perlu kita tanamkan bersama kepada seluruh pelajar dan elemen masyarakat di Babel ini, bahwa perkelahian pelajar jelas merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas.
Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah.
Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain.
Menjadi tanggungjawab kita semua untuk memberikan pemahaman kepada para pelajar bahwa kekerasan bukanlah cara efektif untuk memecahkan masalah mereka.
Penyebab perkelahian pelajar ini memang tidaklah sederhana. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.
Disadari atau tidak, tawuran di kalangan pelajar dan mahasiswa merupakan bukti gagalnya kebijakan pendidikan selama ini. Kebijakan pendidikan yang selama ini dibangun pemerintah terlalu berorientasi pada nilai atau akademik semata. Semua potensi pendidikan diarahkan untuk mengejar nilai ujian.Anak didik yang lemah secara akademik akan termarjinalkan oleh sistem. Anak yang gagal ujian nasional dicap sebagai siswa yang bodoh.
Seharusnya pendidikan tidak memberikan stempel pintar atau bodoh. Kesuksesan pendidikan tidak sebatas nilai akademik. Karena itu, pemerintah pusat hingga pemerintah daerah harus berani mengoreksi kebijakan yang selama ini mereka buat. Anak-anak yang terlibat tawuran adalah korban kebijakan pendidikan yang keliru. Tawuran pelajar yang kerap terjadi akhir-akhir ini bukan kesalahan satu pihak saja, namun semua pihak juga punya andil dalam pecahnya tawuran pelajar.Masyarakat diminta untuk tidak saling tunjuk dan saling menyalahkan, seperti menyalahkan sekolah, guru, dan orang tua. Karena masyarakat juga ikut membentuk seorang anak.
Baik buruknya perilaku anak juga tidak terlepas dari bagaimana masyarakat membentuk lingkungan. Ditambah lagi, banyak dari sekolah yang tidak menyediakan wadah bagi anak untuk mengekspresikan minat dan emosi anak didiknya.
Pendidikan yang kokoh haruslah disokong kuat oleh semua ‘pilar pendidikan, antara lain masyarakat, orang tua, sekolah, media sosial dan pemerintah. Seperti rumah, semua pilarnya harus kuat. Jika ada yang tidak kokoh akan berpengaruh kepada bangunannya.Disisi lain, pemerintah harus berperan sebagai penyeimbang semua pilar karena pemerintah memiliki kekuasaan untuk membuat sebuah sistem pendidikan.
Caranya berupa penyeimbangan semua pilar dengan memberi siswa wadah dalam mengekspresikan minat dan potensinya, dan wadah ini harus menjadi tren dan diperhatikan positif. Pemerintah harus menciptakan ‘suasana’ pembelajaran yang tidak hanya fokus pada nilai akhir atau kognisi, namun juga ilmu. (*)
Sumber : bangkapos.com

0 komentar:
Posting Komentar